Telco tentang Wanita dan Pendidikan

  • PDF

Jarak dan tempat yang jauh bukan suatu halangan untuk memperoleh informasi dan pengetahuan seperti yang telah dilakukan oleh komunitas belajar TANOKER Ledokombo. Dalam rangka memperingati hari Kartini 21 April 2012, diadakanlah telco dengan relawan 1000guru, Bapak Yudhiakto Pramudya (Pak Pram) mahasiswa doktoral dengan bidang studi fisika di Wesleyan University, Amerika Serikat dan Ibu Witri Wahyu Lestari, mahasiswa doctoral dengan bidang studi kimia anorganik di Universitas Leipzig, Jerman.

Telco atau teleconference dilakukan pada hari sabtu 21 April 2012 dimulai jam 13. 00 WIB di Aula Tanoker Ledokombo dengan tema “wanita dan pendidikan." Acara ini dikordinir langsung oleh Bapak Suporaharjo dan Ibu Farha ciciek selaku pendiri Komunitas Tanoker yang bekerjasama dengan Internet Cerdas Indonesia. Dalam acara ini hadir seluruh anak-anak Tanoker, para Tutor, guru-guru dan dihadiri pula oleh Bapak Dr Anies Baswedan Inisiator Gerakan Indonesia Mengajar.

Pelaksanaan telco diawali dengan sambutan Ibu Farha Ciciek dan dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Anis Baswedan. Setelah itu, dimulai sesi pertama teleconference dengan Bapak Pram. Beliau menjelaskan mengenai 1000guru, apa itu 1000guru dan tujuannya.

Sebelum sesi kedua dimulai, Pak Anies Baswedan berkenan member kata sambutan. Beliau memberi apresiasi kepada komunitas Tanoker, Jaringan 1000guru dan Internet Cerdas Indonesia atas kerjasamanya untuk mencerdaskan bangsa dari desa terpencil ini. Beliau berharap kegiatan ini akan berlanjut terus di kemudian hari.

Pada sesi kedua, Ibu Witri menyampaikan tentang Sejarah Ibu kartini, kebudayaan di Jerman dan dilanjutkan dengan pengalamannya mulai dari tempat kelahiran beliau di Jawa Tengah, riwayat pendidikan sampai dengan proses beliau menempuh pendidikan di Jerman.

Meskipun dalam pelaksanaan teleconference ini beberapa kali terjadi gangguan teknis, seperti gangguan sinyal, gangguan jaringan, putusnya sambungan, suara yang kurang jelas, maupun baterai laptop yang habis, namun semua itu tidak mengurangi semangat fasilitator dan peserta dari Tanoker untuk saling belajar dan saling bertukar pengalaman dalam pertemuan ini.

Melalui kegiatan ini, anak-anak Tanoker bisa memperoleh informasi dan kiat-kiat belajar serta cara-cara untuk belajar di luar Negeri. Para narasumber dan para tamu undangan pun bisa mengetahui banyak gambaran tentang hal-hal yang menjadi harapan dan cita-cita generasi muda Indonesia khususnya di daerah Ledokombo Jember, Jawa Timur.

Saya, Muhammad, selaku salah satu dari peserta telco ini, sangat senang dan bangga sekali terhadap putra-putri Indonesia, seperti Bapak Pram dan Ibu Witri yang membawa nama besar Indonesia di Luar Negeri. Tidak hanya itu, mereka juga mempunyai kepedulian tinggi terhadap generasi muda tanah air dengan cara menjadi relawan 1000guru.

Pada sesi Tanya jawab, sambungan dengan bapak Pak pram terputus karena gangguan teknis. Oleh karena itu, tanya jawab hanya dilakukan dengan Ibu Witri. Namun kejadian ini tidak mengurangi semangat bertanya anak-anak Tanoker dan beberapa guru yang hadir pada kesempatan tersebut. Anak-anak Tanoker dengan sangat antusias dan senang, bergantian mengajukan pertanyaan kepada Ibu Witri seperti di bawah ini.

  • Bagaimana proses dan pengalaman sehingga bisa kuliah di Luar Negeri? (oleh Muhammad)
  • Kenapa Ibu lebih senang kuliah di Luar Negeri daripada di Indonesia? (oleh Nindi)
  • Kenapa Ibu memilih Jerman sebagai Negara tujaan belajar daripada Negara yang lain seperti Amerika? (oleh Vivin)
  • Bagaimana keadaan social budaya di Jerman? (oleh Ike)
  • Kenapa dalam karangan Ibu memakai istilah “wanita” bukan “perempuan”? (oleh Farha Ciciek)

Dengan senyum Ibu Witri menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Peserta tampak puas atas jawaban beliau. Satu hal yang juga ditekankan oleh Bu Witri yaitu, “kuasai bahasa Inggris karena kebanyakan informasi baik itu tentang beasiswa maupun pertukaran pelajar berbahasa Inggris.”

Di akhir acara ,kedua narasumber menekankan pentingnya Kompetensi Akademik, Kompetensi Sosial dan semangat yang kuat. Bapak Pram lulusan pesantren, sedang ibu Witri adalah anak desa telah membuktikan hal itu.

Anak-anak Tanoker mempersembahkan beberapa lagu dalam berbagai bahasa (Inggris, Madura, India dan Indonesia) untuk mengakhiri teleconference ini. Ini merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa bagi kami semua. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya. Terima kasih kepada Jaringan 1000guru dan Internet Cerdas Indonesia!

(Mohammad Lefand)
You are here: