Short Summary Telekonferensi SMA 3 Tangerang Selatan: Motivasi Belajar Keras, Tuntas dan Cerdas Untuk Meraih Sukses

  • PDF

Peserta : 25 siswa kelas akselerasi, 30 siswa kelas 12
Waktu pelaksanaan: Telco sendiri di mulai jam 04.30. Namun mengingat saat itu siswa belum berkumpul, maka ditunda pelaksanaannya. Tepat jam 05.00 telco dimulai, dan berakhir pukul 06.45 CET
Kualitas koneksi: Buruk, sehingga video conference hanya dilakukan saat penyampaian materi. Sesi tanya jawab hanya dilaksanakan tanpa video conference.
Materi presentasi : Sama dengan materi yang disampaikan saat telekonferensi dengan SMAN 1 Karangpandan, hanya sedikit variasi saat penyampaiannya. Materi disampaikan dalam bentuk powerpoint tentang tema motivasi. Definisi motivasi, kaitan motivasi dan IQ, urgensi motivasi belajar yang “keras”, “cerdas”, “tuntas” hingga strategi pribadi nara sumber dalam meningkatkan motivasi belajar. Dalam presentasi narasumber juga ditekankan bahwa ada banyak cara untuk mencapai kesuksesan. Namun semua itu harus diperjuangkan karena hidup memiliki resiko atas apapun pilihan yang diambil dan tantangan yang dijalani. Karenanya, kemampuan memotivasi diri adalah hal yang penting dimiliki agar kita selalu punya semangat untuk tetap konsekuen di jalan yang telah kita pilih. Terkait dengan kesempatan studi di luar negeri, narasumber menekankan bahwa “kesuksesan” belajar dan berkarir di luar negeri amat ditentukan dengan kesiapan karakter pribadi yang dimiliki seorang. Karenanya ia berpendapat bahwa studi di luar negeri mungkin tidak selalu menjadi pilihan terbaik untuk setiap siswa. Studi di luar negeri tanpa persiapan yang memadai menurut narasumber bahkan dapat menjadi buah simalakama yang dapat menjauhkan kita dari dari mimpi-mimpi yang telah kita bangun sebelumnya.

Pertanyaan-pertanyaan siswa:

1. (Salma, Kelas 12)
  Pertanyaan: Bagaimana cara menyeimbangkan pembagian waktu untuk sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler lain di luar waktu sekolah mengingat walau ia punya semangat tinggi untuk melakukan banyak hal namun dibatasi oleh keterbatasan waktu yang ada?
Jawaban: Tidak ada tips khusus yang dapat berlaku untuk semua orang yang sifatnya general, namun tiap pribadi harus mampu mengevaluasi waktu hariannya dan menemukan strategi yang tepat pembagian waktu berdasarkan keadaan dan kebutuhan pribadinya. Penetapan skala prioritas juga perlu dilakukan dari daftar kegiatan-kegiatan luar sekolah yang ingin kita lakukan karena kita dibatasi oleh beberapa variabel seperti kemampuan diri dan waktu. Pemanfaatan waktu optimal saat belajar di sekolah maupun di waktu di luar sekolah (semisal saat di perjalanan pergi dan pulang sekolah, di rumah dll) juga harus dilakukan mengingat waktu yang kita miliki hanya 24 jam. Namun untuk memotivasi diri kita harus ingat, tidak hanya diri kita yang punya masalah dengan keterbatasan waktu, orang lain pun juga.
2. (Ryan)
  Pertanyaan: Apa satu kata yang memotivasi nara sumber untuk melakukan sesuatu?
Jawaban: Untuk narasumber, kata yang mampu memotivasi adalah lillahi ta’ala mengingat menurut narasumber, baginya akan ada sumber kekuatan dan kepuasan khusus bila kita yakin bahwa apa yang akan kita lakukan hanya kita tujukkan untuk Dia dan untuk kemaslahatan di alam semesta.
3. (via Ibu Yuni)
  Pertanyaan: Pendamping hidup narasumber berasal dari mana?
Jawaban: tetap cinta produk Indonesia :)
4. (via Ibu Yuni)
  Pertanyaan: Adakah program akselerasi di Jerman?
Jawaban: Secara program nasional, sepertinya tidak ada. Namun bila ada anak yang memiliki kelebihan khusus, maka biasanya dapat loncat kelas.
5. (via Ibu Yuni)
  Pertanyaan: Adalah penawaran beasiswa program S1 di Jerman?
Jawaban: Ada, namun sangat sedikit, dan biasanya hanya ditawarkan saat seseorang sudah menjalani program bachelor di universitas.
6. (Fena, kelas Akselerasi)
  Pertanyaan: Manakah FK yang cukup bagus di Jerman?
Jawaban: Kualitas pendidikan di Jerman antar universitas biasanya tidak terlalu berbeda. Namun ada beberapa universitas, yang dari informasi narasumber pernah terima, memiliki syarat nilai masuk yang tinggi dan cukup ketat persaingan masuk untuk program kedokterannya semisal University of Heidelberg.
7. (Rivaldo, Kelas 12)
  Pertanyaan: Mungkinkah melakukan kerja sambilan saat studi di Jerman?
Jawaban: Mungkin saja, namun tergantung penawaran kerja yang ada dan biasanya akan berbeda dari kota ke kota lainnya. Di beberapa kota yang punya banyak industri, biasanya memungkinkan menemukan tawaran kerja libur saat musim libur kuliah. Tak hanya itu, penawaran sebagai „werk student“ atau bekerja paruh waktu saat kuliah juga kemungkinan ada, walaupun tidak banyak. Namun, ini tidak selalu sama antar kota dengan kota lainnya.
8. (Farrel)
  Pertanyaan: Dari seminar yang pernah diikuti, ia mendapatkan informasi bahwa biaya sekolah katanya gratis di Jerman, benarkah?
Jawaban: Sebenarnya tidak 100% gratis, karena mahasiswa tetap dibebankan biaya adminstrasi, yang memang sangat terjangkau. Walau saat ini student hanya dibebankan biaya administrasi, namun beberapa saat yang lalu, beberapa negara bagian memberlakukan adanya „Studiengebuehr“ atau bayaran studi yang besarmya sekitar 500 € per semester. Tapi tetap harus diingat, walau untuk sementara ini students hanya dibebankan biaya administrasi, biaya keseharian (living cost) di Jerman bisa dikatakan tidak murah dan amat bervariatif antar kota.Info ini harus didapatkan sebelum memutuskan untuk studi ke Jerman.
9. (Vena)
  Pertanyaan: Apakah benar lulusan SMA di Indonesia harus mengikuti program satu tahun sebelum masuk ke Universitas?
Jawaban: Ya, program tersebut dikenal dengan nama program persiapan belajar di Studienkolleg. Di sini, para pelamar sekolah di universitas akan dipersiapkan dengan pelajaran bahasa Jerman dan beberapa pelajaran umum lainnya (mathematika, fisika, kimia, etc) yang akan diujikan nantinya. Mata pelajaran yang ditawarkan akan tergantung jenis Studienkolleg yang dipilih; dan ini akan ditentukan oleh jenis program studi yang akan ditempuh di Universitas. Ujian akhir di Studienkolleg ditujukan untuk mengetahui apakah calon mahasiswa memiliki keseteraan kesiapan ilmu dengan para pelajar di Jerman yang lulus mengikuti ujian Abitur (ujian akhir sekolah untuk masuk ke Universitas) dan layak untuk masuk ke tingkat Universitas.
10. (via Ibu Yuni)
  Pertanyaan: Apakah perlu menggunakan lembaga lembaga pendampingan studi ke Jerman?
Jawaban: Keputusan tersebut sangat individual dan tidak bisa digeneralisir. Mungkin ada yang merasa nyaman dan tenang dengan menggunakan lembaga pendamping, maka silakan gunakan lembaga tersebut. Pesan nara sumber, gunakan lembaga pendamping yang profesional dan punya reputasi yang baik. Namun tanpa menggunakan jasa lembaga pendamping pun, pada prinsipnya, kita dapat mencari informasi tentang studi di Jerman, misalkan melalui portal informasi yang disediakan oleh DAAD Jakarta serta sumber lainnya yang sudah cukup lengkap dan berlimpah di internet. Tapi, tentu akan lebih efektif bila saat masih di Indonesia kita sudah dapat menjalin komunikasi dengan orang orang yang sedang berada di Jerman atau pernah ada di Jerman, yang pernah mengalami system pendidikan tinggi di negara Mercedes Benz ini, agar mereka dapat memberikan informasi terkini yang mereka ketahui tentang studi di Jerman, membagi pengalaman mereka, serta sharing tips dan tricks untuk studi di sini.
11. (via Ibu Yuni)
  Pertanyaan: Mungkinkah datang ke Jerman melalui jasa host family?
Jawaban: Sebenarnya mungkin saja datang melalui undangan walau kenyataannya tidak mudah mendapatkan host family yang bersedia mengundang seseorang untuk menjadi calon student di Jerman karena cukup rumit proses birokrasi yang harus dilalui. Pun melalui undangan, biasanya sebagai calon student hanya diberikan izin tinggal beberapa saat untuk mengikuti kursus bahasa dan tes persiapan masuk ke universitas. Bila dalam masa izin tinggal itu si calon mahasiswa gagal untuk masuk ke universitas (dalam beberapa kesempatan yang ditolerir), maka biasanya izin tinggal tidak akan diperpanjang kembali dan ia harus kembali ke Indonesia. Karenanya, perlu persiapan yang matang sebelum memutuskan untuk menjalani studi di luar negeri, termasuk di Jerman.

Kejadian yang cukup menarik: Di awal telco, beberapa siswa meminta agar narasumber memperlihatkan pemandangan di luar apartemen narasumber. Sayangnya, permintaan tersebut tidak dapat diluluskan karena saat itu masih dalam keadaan gelap gulita sehingga tidak aka nada pemandangan yang menarik selain keadaan malam yang gelap. Karenanya, narasumber menawarkan untuk menampilkan beberapa foto koleksi narasumber sebagai gambaran keadaan di Jerman, yang disambut positif oleh para siswa.

You are here: