Perbandingan Pendidikan Vokasi di Indonesia dan di Jerman

  • PDF

telco-smk-penerbangan-indo-jerman

Persaingan dunia kerja berbasis kualitas sumber daya manusia semakin meningkat tajam. Indonesia yang turut serta dalam perjanjian MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau ASEAN Economic Community (AEC) seolah menghadapi pisau bermata dua, satu sisi menjadi peluang dan sisi lain tantangan. Dampak yang dapat terlihat adalah Tenaga kerja dari luar semakin terbuka lebar untuk masuk pasar kerja Indonesia, begitu pula sebaliknya, tenaga kerja Indonesia memiliki peluang juga untuk bekerja di negara lain. Namun bagaimana fakta, data yang sekarang sedang terjadi? Apakah bangsa Indonesia minimal mampu menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, mampu berperan dalam mengisi, memanfaatkan kue-kue ekonomi sendiri demi kesejahteraan, kemandirian atau hanya akan menjadi penonton dan tidak mampu menikmati kekayaan bangsa ini?

Pemerintah menjawab hal diatas adalah mempersiapkan sumber daya yang siap untuk bersaing di dunia kerja dengan keterampilan dan pengetahuan dengan memperkuat pendidikan vokasi, baik di tingkat sekolah menengah maupun di jenjang lanjutan, yaitu perguruan tinggi. Di tingkat Sekolah menengah kejuruan, misalnya, (1) pemerintah mendorong lebih banyak dibukanya sekolah kejuruan, (2) Program School Developtmen Plant, sekolah rujukan, yaitu pendampingan terhadap SMK-SMK terpilih di seluruh Indonesia untuk mengembangkan mutu layanan pembelajaran maupun sarana prasarananya, (3) Pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), yaitu lembaga sertifikasi di internal sekolah yang melakukan uji kompetensi keahlian bagi siswa-siswinya, bekerjasama dengan BNSP dan program-program lainnya.

SMK Penerbangan AAG Adisutjipto, Sekolah Menengah Kejuruan dengan konsentrasi di bidang Maintenance Pesawat Terbang adalah sekolah kejuruan yang mempersiapkan peserta didiknya untuk memiliki kecakapan sebagai teknisi pesawat terbang dan didukung pribadi yang religius, karakter disiplin, memliliki rasa tanggungjawab tinggi, peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar. SMK Penerbangan AAG Adisutjipto ini diharapkan keberadaaannya mampu memenuhi pasar kerja di Industri Pesawat Terbang di Indonesia yang tentunya industri ini akan terus meningkat dengan bertambahnya bandar udara, pesawat dan manusia yang melakukan perjalanan udara.

Namun hal ini bukan kemudian sederhana persoalannya bagi SMK ini, pertama, karena tuntutan Industri penerbangan dimana sertifikasi teknisi mengacu standar Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO), otoritas penerbagan sipil dunia. Materi sertifikasi ini diterjemahkan di Industri penerbangan Indonesia setingkat/sederajat dengan program diploma. Kedua, sarana prasarana praktek bagi kejuruan ini yang dari segi biaya sangat mahal.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, sekolah selalu menjalin komunikasi atau kerjasama dengan tujuan untuk peningkatan mutu sekolah. Salah satu peningkatan mutu adalah di bidang sumber daya manusia dengan pelatihan, seminar ataupun diskusi. Dan atas bantuan 1000guru, sekolah pada hari Jum’at, tanggal 27 Januari 2017 dari pukul 14.30 sampai dengan pukul 16.00 WIB berhasil menyelenggarakan teleconference dengan Bapak Didik Hariyanto, mahasiswa program Doktoral di Institut Pendidikan Vokasional, Fakultas Pendidikan TU Dresden, German dengan materi Vocational Education In Germany. Telco ini diikuti sekitar enam puluh guru dan karyawan.

Dalam paparannya, Bapak Didik menjelaskan pendidikan di German yang dimulai dari tingkat bawah sampai dengan perguruan tinggi. Di urutan paling bawah ada Kindergarten atau Pre-School. Dari tingkat bawah ini sampai di tingkat dasar tidak ada perbedaan yang mencolok jika dibandingkan sekolah di Indonesia, hanya di tingkat Taman Kanak-kanak, anak-anak di German tidak diberi materi ajar menulis ataupun berhitung, mereka hanya bermain. Kemudian di tingkat menengah pertama, sekolah di German mulai membagi atau memberikan orientasi bagi siswa-siswinya untuk persiapan studi lanjutnya apakah nantinya akan berlanjut ke sekolah menengah umum, kemudian lanjut di Universitas atau akan melanjutkan ke sekolah menengah kejuruan.

Kemudian, sekolah menengah kejuruan di German dibagi menjadi Full-Time Vocational dan Half-Time Vocational, dimana mereka selama seminggu akan menjalani tiga hari teori di kelas dan tiga hari praktek di Industri. Yang terakhir ini juga sering disebut sebagai dual System.

Ada lima karakter dari sekolah vokasi di German:
(1) adanya hubungan sinergis antara pemerintah dan industri,
(2) belajar dari proses kerja, artinya materi prakteknya adalah bersumber dari dunia industri,
(3) Kompetensi yang dituju adalah sesuai standar nasional,
(4) pengajar dan staff yang memiliki kualifikasi dan
(5) karir yang jelas.

Kunci sukses sekolah vokasi di German adalah karena adanya hubungan yang sinergis, saling menguntungkan antara semua unsur (pemerintah pusat, pemerintah daerah, Departemen terkait dan Industri). Untuk menguatkan pernyataan diatas adalah data bahwa di German ada sekitar 455,000 industri yang ambil bagian dalam training untuk sekolah menengah kejuruan, sekitar 566,000 siswa menandatangani kontrak baru.

Di samping itu, menurut analisa Bapak Didik, faktor penduduk yang tidak terlalu banyak jika dibandingkan Indonesia dengan lapangan pekerjaan yang tersedia membuat keterserapan lulusan disana tinggi.

Di akhir telco, bapak Didik berkenan untuk memperlihatkan suasana di German yang masih turun salju walau tipis lewat jendela apartemennya.

Bapak Kepala Sekolah, Letkol Tek Taufik Yulianto Aminjoyo, S.T. mengapresiasi telco yang terselenggara berkat bantuan 1000guru, dengan harapan guru maupun karyawan semakin bertambah wawasan, tidak terkukung di dalam kebekuan berfikir, sehingga dapat meningkatkan mutu sekolah. Dengan mendengar langsung tentang pendidikan vokasi di German, apa yang telah diterapkan di sana, bisa menjadi referensi untuk diaplikasikan di sini, jika sesuai.

*Laporan ditulis oleh guru SMK Penerbangan AAG Adisutjipto


You are here: