Teleconference "Pendidikan dan Hidup di Jerman", Sebuah Sharing Pengalaman Oleh Dr.-Ing. M.Fauzan Amir

  • PDF

Satu lagi teleconference 1000guru.net telah dilaksanakan. Kali ini teleconference dilaksanakan Dr.-Ing. M.Fauzan Amir, dari Halle, Jerman, dengan murid-murid dan guru dari SMU Negeri 1 Pangkalpinang, Bangka Belitung, yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juli 2011. Teleconference tersebut dihadiri Kepala Sekolah, Guru dan Siswa kelas 12 yang akan mengakhiri pendidikan SMU nya.

Teleconference Dr.-Ing. M.Fauzan Amir (1000guru.net) dengan SMU N 1 Pangkalpinang

Siapakah M. Fauzan Amir? Fauzan adalah putra asli Pangkalpinang dari propinsi Bangka Belitung yang telah menyelesaikan pendidikan Doktor di Chair of Automation Technology, Institute of Computer Science, Martin-Luther University of Halle-Wittenberg, Germany.

Dalam teleconference tersebut, banyak pertanyaan berkisar tentang apakah bisa melanjutkan studi di Jerman? Jawabannya adalah “bisa”, asalkan ada motivasi tinggi, usaha keras dan doa. Mari kita lihat poin-poinnya satu demi satu.

Fakta Tentang Jerman:

Jerman adalah negara 4 musim dengan jumlah penduduk sekitar 80 Juta jiwa. Pada puncak musim dingin, hari akan lebih cepat menjadi gelap. Sebaliknya pada puncak musim panas, hari terang akan dilalui dengan lebih lama. Sebagai gambaran, pada musim dingin sholat subuh biasanya dilakukan sekitar jam 7 pagi. Sebaliknya, buka puasa dapat dilakukan setelah jam 10 malam pada musim panas. Perbedaan waktu antara Jerman dan Indonesia, adalah sekitar 5 jam pada musim panas dan 6 jam pada musim dingin. Jadi, misalnya, ketika telekonferensi ini dilakukan pada jam 9 pagi waktu Jerman, berarti waktu di Indonesia menunjukkan pukul 2 siang.

Pada musim dingin, temperature di Jerman turun hingga -20ºC. Sebaliknya pada musim panas, temperatur dapat mencapai 40ºC. Suatu kondisi yang sangat ekstrim jika dibandingkan dengan cuaca di negeri kita yang suhu hariannya hanya berkisar antara 25-35ºC. Salju umumnya turun pada puncak musim dingin. Hanya indah pada hari-hari pertama saja. Namun,  salju yang turun terlalu lama banyak setelahnya akan menjadi masalah besar. Seperti pernah kita dengar, salju telah menyebabkan lumpuhnya bandara-bandara di Eropa pada akhir tahun lalu sehingga menelantarkan jutaan penumpang di bandara-bandara seluruh Eropa.

Musim panas adalah waktu yang sangat ideal untuk bepergian. Dengan menggunakan kereta-kereta reguler hingga kereta cepat (Inter City Express), sabagai salah satu moda transportasi andalan di Jerman, bepergian ke 25 negara sekitar terasa mudah, cepat dan nyaman.  Teraturnya sistem transportasi di Jerman, tidak terlepas dari karakter-karakter orang Jerman itu sendiri.

Meskipun terkenal kaku dan tidak mudah diajak bicara, namun mereka sangat mudah dimintai pertolongan dan akan melakukannya dengan totalitas. Tepat waktu, tepat janji dan terencana adalah karakter dasar yang menjadi ciri khas mereka. Mereka sangat fokus dan jarang berbicara (yang tidak perlu) ketika sedang bekerja.

Untuk dapat bertahan dan sukses di Jerman, beradaptasi dengan karakter mereka adalah syarat utama yang diperlukan. Pekerjaan-pekerjaan sederhana (yang umunya tidak pernah kita lakukan di tanah air) seperti: menambal ban sepeda, menggunakan mesin foto copy dan mencuci foto, mesti kita lakukan sendiri, jika ingin berhemat. Sebenarnya tersedia juga jasa-jasa pelayanan semacam ini. Tapi harganya relatif mahal. Sebagai contoh, jasa potong rambut di salon-salon Jerman dihargai antara 120 ribu rupiah hingga 360 ribu rupiah. Sebagai alternatif, kita dapat juga menggunakan jasa dari toko-toko asia atau arab, yang biasanya lebih murah. Pada awalnya memang tidak mudah bagi kita untuk beradaptasi, namun lama-kelamaan akhirnya terbiasa juga. Jangan berharap ada tukang baso, tukang siomay keliling yg menjajakan makanan khas kegemaran kita itu. Kalopun mau, ya, kita harus membuatnya sendiri.

    

Sekolah dan Hidup di Jerman:

kereta api jermanSekolah di Jerman tidak hanya sekedar mengenal lebih dekat bagaimana budaya dan karakter orang-orang Jerman. Kualitas pendidikan justru menjadi tujuan utama di sini. Dengan fasilitas yang memadai, kualitas pengguruan tinggi yg bagus dan relatif merata serta biaya pendidikan yang relatif murah menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa yang ingin bersekolah di sini. Memang, jika dibandingkan dengan Indonesia, biaya hidup di Jerman relatif tinggi, yaitu berkisar 550 Euro (6,6 Juta Rupiah) menurut standar pemerintah Jerman. Namun ada banyak cara untuk menyiasatinya. Biaya tempat tinggal bisa dihemat jika kita menyewanya bersama dengan teman-teman kita yang lain. Dengan memasak makanan secara mandiri, biaya makan pun bisa jauh ditekan. Biaya perjalanan bisa dipangkas dengan menggunakan sepeda. Biaya hidup bisa dicari dari berbagai sumber. Memang, idealnya seorang mahasiswa tidak harus bekerja ketika sedang belajar. Namun bila kondisi menuntut demikian, ada banyak alternatif yang bisa dilakukan, salah satunya dengan bekerja paruh waktu.  

Namun demikian, tidak mudah bekerja sambil kuliah. Karena, bagaimanapun, kuliah di Jerman menuntut konsentrasi yang tinggi. Ada banyak contoh yang kurang beruntung, sehingga akhirnya harus kembali ke tanah air dengan tangan hampa. Namun juga, bukan berarti tidak bisa. Asalkan punya kemauan yang tinggi, rajin dan bekerja keras, sukses dalam studi bukanlah hal yg mustahil. Ada banyak contoh yang bisa menjadi rujukan di sini.

Untuk para calon mahasiswa yang ingin studi di Jerman, salah satu institusi yang bisa dimintai keterangan adalah German Academic Exchange Service atau DAAD:

         http://www.daadjkt.org/

         DAAD Jakarta Office
Jl. Jend. Sudirman, Kav. 61-62
Summitmas I, 19th Floor,
Jakarta 12190
Tel.: +62 (21) 520 08 70, 525 28 07
Fax: +62 (21) 525 28 22
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Ada cukup banyak staf Indonesia di sana. Jadi konsultasi dapat dilakukan dalam bahasa Indonesia, jika perlu.

Selain menyediakan konsultasi secara gratis, DAAD juga menawarkan beragam program beasiswa khususnya untuk S2 dan S3. Jadi bagi adek-adek yang tertarik untuk belajar di Jerman (selepas SMU), namun merasa belum siap dari sisi pendanaan secara mandiri, sekolah S1 mungkin bisa dilakukan di dalam negeri terlebih dahulu. Selepas itu, dengan nilai yang baik dan persiapan penguasaan bahasa asing yg mencukupi, adek-adek mungkin bisa mencoba mencari beasiswa ke Jerman, salah satunya melalui DAAD. Tidak ada salahnya mencoba, walaupun sebagian orang mengatakannya itu mimpi. Tidak ada salahnya bermimpi, asalkan mimpi itu dilandasi oleh maksud yg baik, bukan oleh perasaan sombong atau ingin merasa hebat atas orang lain. Jadi, janganlah takut untuk bermimpi. Peliharalah asamu itu selalu dalam hati, sambil mengerjakan apa yg ada didepanmu dg sebaik-baiknya. Dengan doa yg tulus, siapa tau Tuhan berkenan mewujudkan mimpi-mimpimu itu.

alt

Sumber : Dr.-Ing. M.Fauzan Amir, Chair of Automation Tech. Institute of Computer Science,

Martin-Luther University of Halle-Wittenberg, Germany.


You are here: