Pertanyaan Tingkat Tinggi untuk SDM Indonesia yang Lebih Baik

  • PDF

Oleh:  Muhammad Luthfi Arrohman

Seringkah Anda mendengar Indonesia mengikuti olimpiade internasional? Ya, banyak kali Indonesia memeroleh medali emas di Olimpiade sains dunia. Namun mengapa kemajuan Negara kita seolah jalan ditempat? Apa yang salah dengan generasi bangsa? Atau cara guru membelajarkan yang kurang tepat?

Materi yang dibebankan pada siswa Indonesia terkesan menitik beratkan pada hafalan teori. Penguasaan teori tanpa menerapkannya adalah hal ‘muspro’. Jika kita pandai berteori namun takmengerti penggunaan teori tersebut hasilnya sama dengan nol. Kita ambil contoh materi geografi. Dalam materi kelas X semester genap siswa Indonesia dituntut memelajari jenis-jenis letusan gunung. Berikut contoh materinya.

Jenis letusan dan karakteristik


No.

Jenis Letusan

Kekuatan

Kedalaman magma

Kekentalan magma

Contoh

1.

Efusif

lemah

dangkal

Rendah

Merapi

2.

Eksplosif

kuat

dalam

Tinggi

Kelud

Haruskah siswa menghafalkannya? Hampir semua mata pelajaran menuntut siswa untuk menghafal. Jika guru mewajibkan siswa untuk menghafal pada tiap mata pelajaran, akankah mereka akan menjadi ahli pada semua bidang mata pelajaran tersebut? Setiap kemampuan siswa nantinya pasti akan dispesifikasi saat mereka memasuki perguruan tinggi. Akan sangat membebani jika siswa harus menghafal semua materi.

Sejak pendidikan dasar hingga menengah, siswa dituntut untuk menghafal materi. Menghafal materi seolah-olah menjadi indikasi kepandaian siswa. Menghafal seolah menjadi satu-satunya cara untuk mengasah otak. Menurut bloom kemampuan menghafal/mengingat merupakan kemampuan berpikir terendah yang dilakukan siswa. Mengasah otak tidak hanya dengan menghafal. Otak dapat diasah dengan PTT. Setiap materi sangat berpotensi memunculkan PTT. Sekali lagi hanya berpotensi. Potensi tidak akan muncul jika guru tidak menggalinya. Berikut beberapa pertanyaan dari contoh materi di atas.

  1. Sebutkan dua jenis letusan gunung secara umum beserta ciri-cirinya! (menghafal)
  2. Mengapa letusan merapi lebih banyak memakan korban jiwa dibandingkan letusan kelud yang lebih dahsyat? (Menganalisis)
  3. Mengapa letusan kelud lebih banyak merugikan manusia secara ekonomis daripada Merapi?

Soal nomor 2 dan 3 menuntut siswa berpikir tingkat tinggi (analisis). Siswa dituntut mengaitkan jenis letusan kelud dan pengaruhnya terhadap manusia. Sedangkan soal no. 1 hanya menuntut siswa untuk mengingat. Kelebihan PTT ialah siswa boleh membuka catatan saat menjawabnya, kenapa demikian? Karena jawaban dari PTT tidak akan langsung ditemukan saat membuka catatan, tetapi harus mengaitkan teori dengan hal tertentu (aplikatif). Selain itu, PTT juga akan menurunkan tingkat kecurangan, karena umumnya siswa cenderung menyontek alias ”ngrepek” saat ulangan. Lalu dapatkah PTT diterapkan pada setiap mata pelajaran? Tentu bisa. Berikut beberapa contoh PTT dari beberapa mata pelajaran.

Pertanyaan Tingkat Tinggi beberapa Mata Pelajaran

No.

Pertanyaan

Mata Pelajaran

Tingakatan berpikir

1

Bagaimana kemiringan lereng memengaruhi tingkat erosi?

Geografi

Analisis

2

Tepatkah pembatas lalu lintas berbentuk kerucut? Jelaskan!

Matematika

Evaluasi

3

Jenis rangkaian listrik apakah yang sesuai untuk lampu penerangan jalan? Jelaskan!

Fisika

Evaluasi

4

Mengapa jenis seni kriya Umumnya berbentuk tiga dimensi?

Kesenian

Analisis

5

Mengapa orang cenderung menyimpan uang giral daripada kartal? Jelaskan!

Ekonomi

Evaluasi

Pertanyaan tingkat tinggi dapat berupa menganalisis, mengevaluasi, maupun mencipta. Kata paling sederhana untuk menjelaskan kegiatan menganalisis ialah mengaitkan. jika sebuah soal menuntut siswa untuk mengaitkan teori dengan hal tertentu, maka  sudah dapat dikatakan menganalisis. Mengevaluasi ialah melakukan penilaian. Penilaian yang dilakukan tidak harus hal-hal yang rumit, cukup hal-hal yang sederhana terkait materi yang dipelajari. Mencipta ialah mengkreasi sesuatu. Kegiatan mencipta tidak harus sesuatu yang besar, cukup hal-hal yang sederhana. Kenyataannya banyak penemuan-penemuan kecil dan sederhana yang hingga saat ini masih banyak digunakan, misal sandal jepit, konsep lampu merah, konsep lampu sein saat berbelok, dll. Dengan melatih kemampuan kreatif siswa, sangat mungkin mencetak generasi-generasi kreatif yang memajukan bangsa.

Kemampuan tingkat mencipta lebih umum dilakukan dalam bentuk melakukan aktivitas daripada menjawab pertanyaan. Sebagai contoh siswa membuat beberapa kubus dengan kawat yang disediakan. Akankah panjang rusuk tiap kubus yang tercipta sama persis? Siswa membuat rangkaian listrik campuran seri dan paralel dari 2 meter kawat, 3 bola lampu, dan 2 baterei. Akankah setiap siswa akan menghasilkan bentuk rangkaian yang sama persis? Sangat kecil kemungkinan terbentuk hal yang sama, karena ide pemikiran tiap orang/siswa memang berbeda.

Mengapa perlu melatih siswa berpikir tingkat tinggi? Perlukah berpikir tingkat tinggi diterapkan dalam pembelajaran? Setiap siswa nantinya pasti akan menghadapi dunia kerja. Tahukah Anda bahwa setiap pekerjaan menuntut berpikir tingkat tinggi? Seorang petani akan menanam jagung saat kemarau dan padi saat penghujan. Apakah petani menghafal jenis tanaman pada musim tertentu? Tentu tidak, petani mengaitkan musim dan ketersediaan air terhadap jenis tanaman yang akan ditanam. Saat akan melakukan penyerangan, tentara akan memilih melalui hutan daripada padang rumput. Apakah tentara menghafal hal itu? Tentu tidak, Tentara menilai hutan lebih menyamarkan posisi mereka daripada padang rumput.

Dua profesi di atas adalah contoh penerapan berpikir tingkat tinggi secara sederhana dalam dunia kerja. Masih sangat banyak contoh profesi yang menuntut berpikir tingkat tinggi yang bahkan lebih rumit. Sebagai contoh seorang insinyur akan mengaitkan jenis dan kekuatan bahan, bentuk bangunan terhadap kekuatan bangunan, dan mengaitkan semua itu dengan biaya yang dibutuhkan. Dari semua ilustrasi tersebut, masihkah Anda berpikir bahwa PTT tidak penting?

Berpikir tingkat tinggi wajib dibiasakan pada seseorang sejak di bangku sekolah. Jika itu benar-benar diterapkan dapatkah Anda bayangkan bagaimana Sumber Daya Manusia Indonesia kelak? PTT akan mencetak generasi yang analitis, evaluatif dan kreatif, sehingga manusia Indonesia tidak hanya menang secara kuantitas, tetapi juga dalam hal kualitasnya. (MLA)

You are here: